Kamis, 07 Mei 2015

ETIKA BISNIS



LEMBAR PERNYATAAN





Saya Yang Bertanda Tangan Dibawah Ini :
 
Nama : Fariz Hadyan  
Npm : 13413263
Kelas : 2IB03
Jurusan : Teknik Elektro

Menyatakan bahwa makalah yang telah sampai
2801 kata dan bukan hasil dari plagiat


ETIKA BISNIS
BAB I
PENDAHULUAN

Definisi Etika
Bisa dikatakan bahwa “teori etika” dapat membantu para   pengambil   keputusan   untuk   bisa   memberikan penilaian, apakah sebuah   keputusan itu sudah etis atau belum. Teori etika mendasari dan menyediakan sebuah kerangka kemungkinan kepastian benar atau tidaknya suatu keputusan moral.
Dengan berdasarkan pada sebuah  teori etika, keputusan moral yang dilakukan   bisa menjadi beralasan. Dengan kata lain, dengan teori etika  keputusan dijauhkan dari suasana sewenang-wenang dan terhindar dari ketidak pastian hukum dan ketidakpuasan. Sebuah teori etika tertentu   membantu pengambilan keputusan moral. Teori etika menyediakan justifikasi bagi keputusan yang dilakukan oleh para manajer.
Secara teoritis, ada yang termasuk norma umum dan khusus. Norma umum akan berlaku umum  dan universal, tidak  kenal tempat,  waktu  dan lingkungan  masyarakat. Artinya di manapun, kapanpun dan di lingkungan manapun akan norma tersebut akan diberlakukan.  Sedangkan norma khusus berlaku pada tempat,  waktu  dan lingkungan yang khusus, disamping juga niengatur kegiatan dan bidang kehidupan tertentu,
Salah satu norma umum yang berlaku dalam masyarakat adalah norma moral, yaitu aturan mengenai sikap, perilaku dan tindakan manusia sebaai yang yang berkehidupan bermasyarakat.  Norma moral, atau yang sering disebut  moralitas dapat didefinisikan sebagai standar yang dimiliki  seseorang atau  individu ataupun  kelompok tentang apa yang benar dan apa yang salah, tentang apa yang baik dan apa yang jahat (Satyanugraha, 2003). Norma moral menjadi standar bagi orang lain atau masyarakat untuk menentukan  baik buruknya perilaku dan tindakan  seseorang, serta benar salah perilaku orang tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.
Etika adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana berperilaku jujur, benar dan adil. Etika merupakan cabang
ilmu filsafat, mempelajari perilaku moral dan immoral, membuat pertimbangan matang yang patut dilakukan oleh seseorang kepada orang lain atau kelompok tertentu.
Etika dikategorikan sebagai  filsafat moral atau etika normatif.   Etika   adalah   suatu   perilaku   normatif.   Etika normatif  mengajarkan  segala  sesuatu  yang  sebenarnya benar menurut hukum dan moralitas. Etika mengajarkan sesuatu yang salah adalah salah dan sesuatu yang benar adalah benar. Sesuatu yang benar tidak dapat dikatakan salah dan sebaliknya sesuatu yang salah tidak dapat dikatakan benar. Benar dan salah tidak dapat dicampur adukkan demi kepentingan seseorang atau kelompok.
Untuk memahami pengertian etika secara praktis, diperlukan  usaha  memperbandingkan  etika  dengan moralitas. Etika maupun moralitas sering diperlakukan sama sejajar dalam memberi arti terhadap sebuah peristiwa interaksi antar manusia.
Pertama, etika berasal dari kata Yunani ethos, bentuk jamaknya (ta etha) berarti „adat istiadat‟. Berarti etika berhubungan dengan kebaikan hidup, kebiasaan atau karakter   baik   terhadap   seseorang,   masyarakat   atau terhadap kelompok masyarakat.
Kedua, Etika dalam pengertian kedua ini dimengerti sebagai filsafat moral, atau ilmu yang membahas dan mengkaji nilai dan norma yang diberikan oleh moralitas dan etika.
Istilah moral berasal dari kata Yunani mores, berarti kebiasaan atau cara hidup. Istilah lain yang mirip dengan moral ialah etika. Moral menunjukkan tindakan seseorang adalah benar atau salah, sementara etika adalah sebuah studi tentang tindakan moral atau sistem atau kode perilaku yang diberlakukan. Jadi etika mempelajari, mengukur dan menentukan  apakah  sebuah  perilaku  bisa  dikatakan  baik atau buruk. Perilaku bagaimana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, yang benar dan tidak dibenarkan dilakukan. Tujuan Etika
Dua tujuan etika antara lain menilai perilaku manusiawi berstandar moral, dan memberikan ketepatan nasehat tentang   bagaimana   bertindak   bermoral   pada   situasi tertentu.
Tahapan Etika Bisnis
Etika bisnis dapat dilaksanakan dalam tiga tahapan: tahap makro, tahap meso, dan tahap mikro. Ketiga tahap ini membahas  kegiatan  ekonomi dan bisnis.  Ditahap makro, etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari sistem ekonomi secara total.
Pada tahap meso (menengah), etika bisnis mempelajari persoalan etika dalam organisasi. Organisasi di sini dapat diasosiasikan sebagai organisasi perusahaan, serikat buruh, lembaga konsumen, perhimpunan profesi, dan lain-lain.
Tahap mikro memusatkan perhatiannya pada persoalan individual sehubungan dengan aktifitas ekonomi atau bisnis. Pada tahap ini  dipelajari tanggung jawab etis karyawan dan
majikan, bawahan dan manajer, produsen dan konsumen, pemasok, dan investor.
NORMA ETIKA
Norma sopan santun adalah etika berperilaku bagaimana caranya melakukan segala sesuatu secara terhormat, dengan hormat, menghargai keberadaan orang
lain, bermanfaat timbal balik, tidak menyinggung perasaan, sehingga tidak menyakiti hati orang lain.
Norma hukum, adalah norma pengatur berbagai perilaku yang boleh dan tidak untuk dilakukan, yang disosialisasikan dan disepakati masyarakat dan dituntut secara tegas pemberlakuannya oleh masyarakat demi keselamatan  dan  kesejahteraan  individual  maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
Norma moral, mengatur mengenai sikap pola perilaku manusia terhadap manusia lain sesuai dengan harkat manusia. Norma moral ini memanusiakan manusia sebagai manusia, memuliakan manusia sebagai manusia. Jadi norma moral ini mengajarkan bagaimana caranya berinteraksi dengan manusia sesuai dengan harkat martabatnya sebagai manusia. Norma moral bisa berarti perilaku adil, jujur, baik dan buruk.
PENTINGNYA PEMAHAMAN ETIKA
Meskipun dunia terus terbangun modernitas, namun seyogyanya masyarakat yang hidup didalamnya tetap memiliki budaya dan agama sebagai penuntun kegiatan bisnisnya. Tindak tanduk bisnis manusia selalu perlu didasari oleh nilai moral sehingga penjual dan konsumen mencapai kesejahteraannya.
Norma moral penting karena setiap keputusan bisnis harus didasari moral, dengan cara bisnis yang benar dan dapat   diterima   oleh   mayoritas   masyarakat,   misalnya pebisnis mencantumkan peringatan penting pada kemasan obat produksinya, agar konsumen dapat mengikuti petunjuk pemakaian tersebut dan tidak terjadi kesalahan fatal selepas mengkonsumsi   obat   yang   dibelinya.       Norma   moral menuntun pebisnis menuju kehidupan sosial yang teratur. Untuk mencapai hal tersebut Pebisnis dan konsumen perlu mengetahui  pemahaman,  kesepakatan,  prosedur  perilaku
yang dilakukan oleh pebisnis dan konsumen sehingga kehidupan sosial bisa tercapai. Perilaku manusia perlu benar benar dilandasi norma moral dan etika dalam berbisnis, dan nilai moral tersebut harus selalu diwariskan pada generasi berikutnya. Hanya makhluk yang memiliki etika moralitas tinggi bisa disebut sebagai manusia, karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi dan mulia.











 BAB II
PEMBAHASAN
Bisnis dan Etika
Bisnis Amoral
Bisnis  hanya  untuk  bisnis  adalah  a  moral.  Bisnis bukan hanya untuk keuntungan bisnis semata. Richard T. De George mengatakan bahwa Business is not just for business but  welfare,  Bisnis  didasari  oleh  etika  tinggi,  jadi  bisnis bukan hanya untuk kepentingan perolehan keuntungan melalui kegiatan bisnis semata melainkan melakukan bisnis untuk kesejahteraan masyarakat dan pelaku bisnis. Kegiatan bisnis utamanya adalah melakukan bisnis sebaik mungkin untuk mendapat keuntungan, bagaimana memproduksi, mengedarkan, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan dan lebih jauh lagi menciptakan kesejahteraan masyarakat. Singkatnya sasaran dan tujuan, bahkan  tujuan  satu-satunya  bukan  hanya  keuntungan semata melainkan kesejahteraan masyarakat.
Bisnis berhubungan erat dengan etika atau moralitas.Pebisnis bukan hanya menjalankan pekerjaannya mencari keuntungan,  namun  menyejahterakan  kehidupan masyarakat luas. Aktifitas bisnis seperti jual-beli, menciptakan   produk   atau   menawarkan   jasa,   merebut pangsa pasar, memperoleh keuntungan berdasarkan etika atau moralitas. Moralitas merupakan kewajiban semua individu pebisnis.
BEBERAPA PERSOALAN ETIKA BISNIS
Persoalan moralitas manajer dan karyawan dalam praktek bisnis sering menimbulkan akibat merugikan perusahaan secara eksternal. Persoalan besar lainnya adalah masalah pelestarian sumber alam sehubungan dengan praktek bisnis, bisnis dalam hal ini diduga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan alam dari praktek bisnisnya. Kelompok environmentalist menyatakan bahwa banyak perusahaan besar mengotori lingkungan alam dari praktek bisnisnya dengan tidak mendaur ulang atau menyaring limbah  industri  dalam  proses  produksi  bahkan membuangnya tanpa proses refinery lebih lanjut sehingga membahayakan  kehidupan  manusia  dan  cenderung berakibat kepunahan flora dan fauna di sekitar lokasi pabrik milik perusahaan.
Peranan Etika dalam Bisnis
Contoh kegiatan bisnis yang berlaku, seperti diungkapkan pada kasus-kasus di atas menuntut  adanya suatu jalan  penyelesaian agar tujuan  dalam bisnis tetap  bisa dicapai tanpa harus mengabaikan tindakan moral. Disinilah peranan yang harus diambil oleh norma atau etika dalam kegiatan bisnis itu sendiri.
Sebelumnya ada  beberapa  alasan  mengapa  etika  itu  penting  bagi  kegiatan bisnis, antara lain;
a)  etika seharusnya menjadi pedoman bagi semua kegiatan manusia, karena bisnis adalah kegiatan  masyarakat  maka etika  seharusnya menjadi  pedoman dalam kegiatan bisnis tersebut,
b)  bahwa aktifitas  bisnis adalah sama dengan aktifitas  masyarakat  lainnya, tidak akan dapat berlangsung kecuali para pelakunya mematuhi standard etika yang ada. Contoh, tidak akan ada bisnis  dapat berlangsung terus menerus tanpa etika maka minimal  para pelaku bisnis yang tersangkut  harus mematuhi  nilai etika yang ada.
c)  Pertimbangan etika  sangat  konsisten dengan tujuan  bisnis, khususnya tujuan untuk memaksimumkan   keuntungan.   Banyak  perusahaan  yang   mengalami dilema moral namun berhasil menyelesaikannya secara bermoral pula dan tetap memperoleh keuntungan yang memadai, atau perusahaan yang dikenal memiliki kultur  perusahaan yang  bermoral  temyata  adalah  perusahaan yang  berhasil. Memang hal ini tidak dapat membuktikan adanya hubungan etika dengan keuntungan  perusahaan, sebab ada banyak faktor  yang dapat  mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Namun tanpa adanya etika dalam bisnis menyebabkan kegiatan tersebut tidak berjalan stabil.
Masyarakat juga  cenderung menghukum atau menyalahkan pelaku bisnis yang tidak bermoral serta menghargai atau memuji  pelaku bisnis yang bermoral, sehingga dapat kita ciutkan  pemahaman ini menjadi  bahwa pelaku bisnis yang bermoral akan memperoleh keuntungan  walaupun  tidak  jelas  dalam  bentuk  dan jangka  waktunya, sedangkan pelaku bisnis yang tidak bermoral akan mengalami kerugian yang juga tidak jelas bentuknya seperti apa dan jangka waktunya.
Peranan etika itu dalam kegiatan bisnis antara lain adalah:
(1) Etika harus menjadi pedoman dalam kegiatan masyarakat, karena itu seharusnya juga  menjadi  pedoman bagi bisnis. Mana tindakan  yang tepat, benar  dan  boleh  dilakukan  dalam bisnis yang  diharapkan  menguntungkan semua pihak yang terlibat .
(2)  Etika berperan  sebagai penghubung  pelaku  bisnis. Jika produsen sebagai penyedia produk yang akan dibeli oleh konsumen menyediakan fasilitas pelayanan puma jual  bagi setiap konsumen yang telah memakai produknya, bukankah   ini   sebuah   celah  bagi   keduanya   untuk   terus   berhubungan. Pelayanan puma jual  tentu  merupakan refleksi nilai atau etika bisnis   yang diterapkan   perusahaan  untuk   menjaga  loyalitas  konsumennya .
(3) Etika  juga   berperan   sebagai  syarat   utama   unutk   kelanggengan  atau konsistensi  perusahaan.  Perusahaan yang  beretika  akan  selalu  berusaha untuk  memuaskan pelanggan atau konsumennya. Loyalitas konsumen akan dapat membantu perusahaan agar tetap bisa bertahan .
Jika terus dikaji akan banyak peranan lain yang dapat dipikul oleh nilai atau etika ini. Etika yang memerlukan pemahaman semua pihak agar kegiatan masyarakat tetap berlangsung dan  menguntungkan  semua yang terlibat,  akan menjadi suatu jawaban terjadinya  kesenjangan   dan kepincangan dunia bisnis. Tanpa etika yang diterapkan oleh semua pihak yang terkait dalam kegiatan bisnis tersebut tentu kegitan bisnis tidak akan  dapat  bertahan.  Dari  semua pertimbangan,  alasan yang  tertulis  di  artikel  ini menunjukkan bahwa etika merupakan keharusan untuk  bisnis dalam jangka  panjang dan untuk kelangsungan bisnis itu sendiri.
MASALAH  KORUPSI  TARAF INTERNASIONAL
Korupsi bisa terjadi didunia bisnis internasional, masalah korupsi dapat menimbulkan kesulitan moral bagi bisnis internasional. Perbedaan budaya antara satu negara dengan   negara   lainnya   memungkinkan   terjadi   korupsi karena menurut budaya negara tertentu korupsi merupakan hal biasa, sementara dinegara lain korupsi merupakan tindakan tidak etis. Jadi sebenarnya secara etis korupsi lebih mungkin terjadi diwilayah bisnis internasional.

SUAP DAN ETIKA
Secara etis praktek suap melanggar etika pasar. Bisnis didasari oleh prinsip hukum untuk mengatur kegiatan bisnis menyajahterakan semua pelaku bisnis. Bisnis dilandasi prinsip  ekonomi  pasar  berarti  seseorang  yang  bisnisnya
lebih ekonomis patut memenangkan persaingan tanpa suap. Penyimpangan terhadap aturan hukum berarti tidak etis karena bermain curang.
Pasar secara ekonomis adalah ajang kompetisi bisnis terbuka. Pebisnis piawai melakukan produksi yang lebih efisien dari pebisnis lain akan mampu memberikan penawaran harga efisien dengan kualitas produk bersaing terhadap pesaingnya di pasar. Praktek suap akan merusak efisiensi pembentukan harga dan kualitas produk di pasar, sehingga masyarakat terkecoh memperoleh produk kurang berkualitas sementara harganya juga tidak bersaing. Dalam bisnis modern secara etis pemberi maupun penerima suap dikategorikan sebagai tidak fair dan merugikan pebisnis lain ataupun konsumen.
TANGGUNG JAWAB BISNIS TERHADAP KEAMANAN PRODUK
Teori Kontrak Hubungan produsen dan konsumen merupakan kontrak, dan kewajiban produsen terhadap konsumen dilandasi kontrak tersebut. Jika konsumen membeli produk, seolah-olah konsumen membuat kontrak dengan perusahaan penjual. Perusahaan secara sadar berkontrak menyerahkan produk kepada pembeli dan pembayaran dilakukan sesuai jumlah kontrak yang disepakati.
Teori Perhatian Semestinya Konsumen selalu dalam posisi lemah, produsen punya lebih banyak pengetahuan, pengalaman tentang produk bila dibandingkan konsumen. Kepentingan konsumen harus dinomorsatukan. Produsen lebih mengetahui kualitas teknis produk berkewajiban menjaga konsumen supaya tidak mengalami kerugian.
Teori Biaya Sosial Secara etis produsen bertanggung jawab pada perencanaan design, proses produksi, kelemahan produk serta kerugian konsumen saat mengonsumsi produk meskipun produsen sudah memperingatkan konsumen mengenai resiko yang timbul dan sudah mengambil semua
tindakan seharusnya dilakukan bagi kepentingan konsumen. Semua biaya yang timbul sehubungan dengan peristiwa tersebut menjadi tanggung jawab produsen.
TANGGUNG JAWAB BISNIS LAINNYA TERHADAP KONSUMEN
Secara moralitas pebisnis memiliki beberapa kewajiban terhadap konsumen lainnya seperti:
Kualitas Produk  Konsumen berhak memperoleh produk berkualitas, konsumen membayar untuk memperoleh kualitas produk. Pebisnis wajib memberikan produk berkualitas kepada konsumen. Produk daluwarsa adalah termasuk produk berkualitas rendah secara etis.
Harga Harga produk merupakan total hasil perhitungan faktor produksi seperti biaya produksi, biaya investasi, promosi, pajak,  laba.  Harga  yang  sesuai  untuk  konsumen  adalah harga pantas yang dihitung berdasarkan perkembangan terakhir harga faktor produksi di pasar.
Pengemasan dan Label Secara etis pengemasan dan label memuat informasi tentang produk. Info lengkap harus dimuat secara moral ditujukan agar konsumen tidak terkecoh. Pada kemasan makanan dan obat-obatan diberi informasi tentang isi, berat produk,  tanggal  daluwarsa.  Informasi  tersebut  bertujuan
melindungi   konsumen   dan   memberikan   jaminan   akan kualitas produk dan kemungkinan kemudahan menggunakan produk. Kemasan berfungsi juga untuk mempromosikan produk.
DASAR ETIKA KEBAJIKAN
Kebajikan diterjemahkan sebagai perbuatan manusia secara materil dan moril untuk berbuat baik bagi benda, tumbuhan, binatang, dan manusia. Etika kebajikan merupakan bentuk bangunan mental moral manusia dengan tuntutan kepentingan dunia yang harus dipenuhi. Bangunan mental manusia dipengaruhi oleh kebijakan pribadi dan kebijakan umum, pertimbangan perbuatan berkepentingan pribadi dan berkepentingan umum. Filosofi ini menunjukkan bagaimana manusia atau pebisnis dapat bertindak bisnis berkualitas memperhatikan kepentingan masyarakat selain memperoleh kenikmatan duniawi pribadi.
Konsumen  adalah Raja
Konsumen perlu dilayani sebagaimana layaknya orang utama. Kepuasan konsumen secara etis merupakan keutamaan dalam setiap aktifitas bisnis yang dilandasi etika bisnis  tinggi.  Perusahaan  yang  berprestasi  adalah perusahaan yang bukan hanya mampu membuat konsumennya merasa puas namun juga merasakan kegembiraan  akibat  urusan  jual  beli  barang  dan  jasa ekonomi dengan pebisnis. Konsumen harus diutamakan pelayanannya karena mereka telah memberikan sejumlah uangnya kepada pebisnis, maka secara etis pebisnis secara timbal  balik  harus  mampu  memberikan  kualitas  produk prima dan pelayanan yang baik sehingga konsumen merasakan kepuasan dan kegembiraan akibat urusan jual beli, sementara pebisnis memperoleh keuntungan, dengan demikian kedua belah pihak merasakan kepuasan dan kegembiraan dari hasil transaksi perdagangan yang dilakukan; keadaan tersebut tentu merupakan kondisi yang wajar  untuk  dialami  oleh  kedua  belah  pihak  yang mengadakan perikatan jual beli secara suka rela.
Dalam etika bisnis berlaku prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh para pelaku bisnis. Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:
1.Prinsip Otonomi
Yaitu kemampuan mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang diambil.
2.Prinsip Kejujuran
Bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak berlandaskan kejujuran karena kejujuran merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis (missal, kejujuran dalam pelaksanaan kontrak, kejujuran terhadap konsumen, kejujuran dalam hubungan kerja dan lain-lain).

3.Prinsip Keadilan
Bahwa tiap orang dalam berbisnis harus mendapat perlakuan yang sesuai dengan haknya masing-masing, artinya tidak ada yang boleh dirugikan haknya.
4.Prinsip Saling Menguntungkan
Agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan, demikian pula untuk berbisnis yang kompetitif.
5.Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini merupakan dasar dalam berbisnis dimana para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha bisnis mereka harus menjaga nama baik perusahaan agar tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik.



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Bisnis memang selalu bertekaitan dengan ekonomi yang memiliki unsur tanggung jawab dan etika terhadap bisnis itu sendiri . masyarakat yang akan bertahan adalah masyarakat yang bisa hidup berdampingan secara damai. Salah satu hal yang bisa mendamaikan ini adalah adanya   nilai-nilai   atau   norma   dan   etika   dalam   masyarakat   itu   yang   saling menguntungkan  bagi semua pihak. Demikian pula halnya dengan  kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat, termasuk kegiatan bisnis, harus dilandasi moral yang baik. Moral, atau dalam bisnis sering kita sebut dengan etika bisnis menjadi suatu pedoman penting terjadinya kegiatan bisnis. Tanpa adanya etika bisnis yang baik, jelas dan bisa dipahami secara benar oleh semua pelaku bisnis, niscaya kegiatan bisnis ini tidak akan berlangsung lama. Artinya  keberlangsungan kegiatan itu juga  bergantung  pada cara penerapan etika tersebut  oleh pelaku bisnis yang terlibat.  Adanya anggapan bahwa kegiatan bisnis itu kotor,  mengandung tipu  muslihat, selalu berpihak pada yang kuat akan berangsur-angsur hilang seiring dengan dilakukannya etika bisnis yang benar oleh pelaku bisnis itu sendiri. Jika ada komitmen dari pelaku bisnis untuk menerapkan etika itu   secara  kuat   dan  kokoh,  mudah-mudahan   tidak   akan  ada  lagi  kecurangan- kecurangan yang terjadi dalam masyarakat untuk kegiatan bisnis ini. Etika bisnis perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai yang tinggi, dimana diperlukan suatu landasan yang kokoh untuk mencapai itu semua.
REFERENSI
Keraf,  S, Sonny. 1998. Etika Bisnis-Tuntutan & Relevansinya. Jakarta: Kanisius
Michael A.  Hitt,  dkk.  1993.  Manajemen  Strategis-Menyongsong  Era  Persaingan &
Globalisas~Terjemahan, NJ   :  Prentice Hall
Tjiptono, Fandy. Chandra,Gregorius. 2005.  Service,Quality & Satisfaction.
Satyanugraha, Heru. 2003. Etika Bisnis- Prinsip den Aplikasi. Jakarta: LPFE  Universitas Trisakti
 Warren, Russel, G, Antitrust in Theory and Practice, Grid
Inc, Columbus, Ohio, USA
Blackstone, William, T, Ethics and Ecology, 1974, University of Georgia Press, USA
Grossman, Richard, R, and Kazis, Richard, Job Blackmail: It‟s Not Jobs or Environment, 1983, Pilgrim Press, New York, USA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar